Kakak Nim gw tercinta, Mbak Levina, sering berkata kalau kita harus mengikuti "lentera jiwa". Setiap kali temannya ulang tahu, Mbak Ley selalu bilang "semoga terus mengikuti lentera jiwanya". Gue mengartikan lentera jiwa di sini sebagai passion yang akan terus dikejar sampai akhir hayat. passion diibaratkan sebagai lentera yang akan terus membuat diri lo hidup dan menerangi kehidupan lo. Menurut gue, ucapan yang cuma sebaris dan pendek itu bener-bener doa paling indah dan paling pas diucapkan untuk semua orang. Tadi malam, gue juga baru menamatka buku The Alchemist-nya Paulo Coelho, yang memberikan efek yang sama dengan diucapi "semoga terus mengikuti lentera jiwanya". Secara garis besar, The Alchemist bercerita tentang seorang anak laki-laki gembala yang terus mengejar mimpinya. Dalam perjalaan, dia banyak belajar, terutama membaca pertanda dan memahami bahasa dunia. Bahasa dunia di sini gue tangkap sebagai bahasa universal yang ditunjukkan oleh semua elemen di alam. Dalam buku ini, sia anak berkomunikasi dengan hatinya, dengan angin, dengan pasir, denga matahari, menggunakan bahasa dunia. Yang paling menarik menurut gue adalah perkataan dalam buku ini, bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, alam akan berkonspirasi untuk membantu kita mewujudkannya. Alam akan memberikan pertanda, lewat apapun, dengan bahasa dunia. Hati lo juga bakal memberi tahu lo dengan bahasa dunia, bagaimana cara lo mewujudkan mimpi-mimpi lo. Seringkali alam nggak pengen kita menyerah, dan dia membiarkan kita mencicipi kesuksesan di awal-awal usaha kita mewujudkan mimpi supaya kita tau rasanya menang dan kemudian nggak menyerah. Seringkali kita menyebutnya sebagai beginner's luck. Setelah itu, menjelang akhir perjuangan, kita akan diuji untuk melihat kesungguhan dan pembelajaran yang sudah kita dapat. Kadang-kadang ada orang yang nggak mau mendengarkan kata hatinya dan menutup diri dari pertanda, karena dia tau kalo mimpinya sulit dan nggak akan mungkin terwujud. Saat itulah hatinya mulai berhenti bicara padanya, dan pertanda mulai diabaikan. Menurut gue, saat seperti itulah, orang mulai kehilangan lentera jiwanya. Sekali lagi, setelah selesai membaca The Alchemist, gue mencoba meresapi kalimat "semoga terus mengikuti lentera jiwa". Makin terasa dalem. Selain untuk mencapai apa yang kita mau, mengikuti lentera jiwa juga membuat kita lebih peka terhadap sekitar dengan mencoba mendengarkan pertanda dalam bahasa universal, sinyal-sinyal yang dikirim alam untuk membantu kita memahami kehidupan sekaligus membantu kita mecapai apa yang kita mau. Jangan pernah berhenti mendengarkan hatimu dan pertanda yang dikirimkan alam :)
Nggak jelas ya? Maap deh udah pagi.
Selamat pagi :)
Across the dark sky flashed scenes from my life.
For each scene, I noticed two sets
of footprints in the sand,
one belonging to me
and one to my Lord.
When the last scene of my life shot before me
I looked back at the footprints in the sand.
There was only one set of footprints.
I realized that this was at the lowest
and saddest times of my life.
This always bothered me
and I questioned the Lord
about my dilemma.
“Lord, you told me when I decided to follow You,
You would walk and talk with me all the way.
But I'm aware that during the most troublesome
times of my life there is only one set of footprints.
I just don't understand why, when I needed You most,
You leave me.”
He whispered, “My precious child,
I love you and will never leave you
never, ever, during your trials and testings.
When you saw only one set of footprints
it was then that I carried you.”
-Margaret Fishback Powers-
Pagi2 buta, hari ini...
Tunggu. Emang pagi2 buta ya?
Oke, lupakan.
Pagi2 buta ini gw, yara, eris, dan faza (yang telat banget datengnya) berangkat ke jogja. Tujuan kami adalah jalan2 ke...jogja
You don't say
Selain ke jogja kita juga akan ke solo dan gunung kidul
Eniwei (asik deh bahasa anak gaul) kemaren disti ngirim link lomba nulis. Ada genre fiksi komedi di sana, dan gw tertarik. Mungkin gw bakal ngirim salah satu dari koleksi gw. Mudah2an sempet, deadline-nya 31 maret 2013.
Selain lomba nulis itu, gw juga lagi fokus ngurusin Azhar, Christo, Aras sama Fajar. Yep, Engineer Rhapsody! Gw merencanakan akan ada 4 seri, plus 1 seri tambahan yang masih tentatif. Semoga gak kehilangan minat (lagi) mengingat gw udah menggarap cerita ini dari 2009.
Dan 2013... Gw cuma berharap dia lebih menyenangkan dari 2012. Yeay!
"Nanti gue harus bikin struktur yang sama kayak gitu?"
Habislah dia diledekin, sampai akhirnya dia bilang "2 hari lagi gue kasih kabar ya. Gue harus minta ijin dulu ke orang tua."
Kurang dari 24 jam, ada SMS masuk ke HP gue, isinya.
"Gw dapet ijin Wi. Tapi gue takut nggak ada yang bantuin gw."
Dan itu semua tidak pernah terbukti sampai detik ini. Kak Pepi dan Kak Wisnu sebagai kahim dan wakahim yang terus mendampingi, bersama Kak Rezky dan Kak Baskoro, ditambah mamake Mbak Dini dan gue yang bersama-sama mencari orang untuk menjadi koordinator dan kadiv. Antusiasme massa meningkat sampai overload, semua ingin ikut eksekusi dan praeksekusi. Semua antusias bekerja, semua bersemangat mengonsep, semua membantu dengan ikhlas. Ditambah publikasi yang gencar, progres report dan buletin yang selalu masuk milis, serta pensuasanaan yang kental, alumni, swasta, massa, dosen, semua tahu perkembangan desmit ini.
Sampai tanggal 24 November yang ditentukan sebagai tanggal praeksekusi hampir datang. Rasanya baru kemaren malem gue muker. Rasanya baru kemaren malem Tito Ari jadi ketua. Rasanya baru kemaren gue mikir praeksekusi desmit masih sangat jauh di depan sana. Tiba-tiba hari yang semula kerasa kayak cuma ada di dunia khayal, datang juga. Gerbang yang menunggu kami itu, sudah siap untuk dimasuki. Sempat ada keraguan soal jumlah massa yang bakal ikut karena sehari sebelumhya ada kulap 2010 ke bantar gebang. Tapi toh ternyata banyak juga yang dateng. 50-60 an orang. Banyak.
Ketakutan Tito Ari nggak pernah terbukti sampai sekarang.
Suatu hari gue ngobrol sama Mbak Pije, dan spontan dia bilang "Dari sekala 10, aku kasih 9 buat desmit. dedikasi BP-nya, fungsi kontrol dari departemennya, publikasi pensuasanaannya, konsep yang matang, dan progres yang bisa terpantau."
Kami masuk ke berita, mulai dari berita skala kampus seperti di web KM ITB, sampai koran pikiran rakyat. Rasanya gue hutang empat ribu milyar sama Tito Ari dan timnya. Kalau bisa bilang terimakasih sampai akhir jaman, gue bakal bilang terimakasih tiap detik tiap menit tiap jam tiap hari.
Sekarang tinggal menyelesaikan apa yang sudah kami bangun bersama warga di sana.
Tanggal 22 kami balik lagi ke sana kok.
Tunggu kami lagi ya :)
