Momen dimana lo menemukan sosok yang lo kenal berjalan ke arah lo.
Perlahan tapi pasti, suasana di kanan kiri lo berubah semu. Nggak ada lagi suara-suara bising yang sedari tadi ngerusuhin gendang telinga. Seakan lo berdua adalah tokoh utama film india, dan yang lain cuma penari latar numpang lewat yang nggak penting. Di dunia yang tiba-tiba waktunya berhenti itu, cuma ada lo dan dia, yang lain ada di dimensi antah berantah.
Kemudian dia mengulurkan tangannya, dan dengan penuh suka cita lo jabat tangannya. Kemudian lo nggak bisa mengingat detail apapun setelahnya. Yang lo tau cuma satu : lo nggak akan nyuci tangan lo, sekotor apapun dia, karena ada bekas telapak tangan orang yang paling menarik seantero jagat raya menempel di sana.
True story :)
Pernah nggak lo tergila-gila sama sesuatu?
Sampe ketika lo memandang sesuatu itu, semua diluar si objek jadi kayak cuma figuran yang blur di mata lo.
Mendadak kebahagiaa memenuhi hati lo.
Mendadak suara aaa aaa aaa yang kalo di pelem-pelem barat sono diibaratkan sebagai suara malaikat, menggema di telinga lo.
Gue seperti orang kena pelet, saat tergila-gila pada sesuatu.
Semuanya bilang gue berpassion. Sebagian bilang gue berlebihan.
Tapi seperti jatuh cinta yang kata Agnes Monica tak ada logika, ketika kita tergila-gila pada suatu hal pun, kita jarang berlogika kan?
Seperti itulah kira-kira :)
Semalem, ketika pulang dari muker dan lewat simpang Dago, terjadi sedikit kesimpangsiuran. Lampu lalu lintas kedip-kedip doang di warna kuning. Otomatis kendaraan-kendaraan maju seenak jidat moyangnya.
"Nggak ada yang mau ngalah nih." Komentar bang gue.
"Iya, nggak sabaran."
Kemudian ada sebuah mobil dari arah Boromeus yang nyelonong gitu aja, padahal udah ada Mas-Mas (kayaknya polisi cepek) yang ngatur jalanya lalu-lintas biar nggak simpang siur amat.
"Nggak sabaran amat sih. Tenang aja kali, orang udah ada yang ngatur."
Kemudian gue diem. Kalimat tersebut agak membuat gue terdiam.
Kembali ke pagi hari dan ke beberapa hari yang lalu. Gue dengan sangat rusuh pusing soal tempat KP. Nggak sih, sebenernya nggak rusuh juga. Cuma gue agak nggak sabaran nunggu hasil dari tempat gue apply. Emang sih udah 3 minggu, dan biasanya balesan baru ada setelah 1 bulan. Kalimat tersebut menyadarkan gue, kalo gue cuma cukup sabar sambil follow up, karena di nun jauh di sana, HRD nya juga lagi bekerja mengatur posisi anak-anak yang juga mau KP.
Lebih jauh lagi, gue berpikir, kenapa sih kita, manusia, selalu nggak sabaran sama apapun? Bukankah udah ada Tuhan yang ngatur segalanya?
Mungkin itu emang sifat dasar manusia aja kali ya. Tapi alangkah lebih baiknya kita bersabar. Do your best and let God do the rest :)
Kakak Nim gw tercinta, Mbak Levina, sering berkata kalau kita harus mengikuti "lentera jiwa". Setiap kali temannya ulang tahu, Mbak Ley selalu bilang "semoga terus mengikuti lentera jiwanya". Gue mengartikan lentera jiwa di sini sebagai passion yang akan terus dikejar sampai akhir hayat. passion diibaratkan sebagai lentera yang akan terus membuat diri lo hidup dan menerangi kehidupan lo. Menurut gue, ucapan yang cuma sebaris dan pendek itu bener-bener doa paling indah dan paling pas diucapkan untuk semua orang. Tadi malam, gue juga baru menamatka buku The Alchemist-nya Paulo Coelho, yang memberikan efek yang sama dengan diucapi "semoga terus mengikuti lentera jiwanya". Secara garis besar, The Alchemist bercerita tentang seorang anak laki-laki gembala yang terus mengejar mimpinya. Dalam perjalaan, dia banyak belajar, terutama membaca pertanda dan memahami bahasa dunia. Bahasa dunia di sini gue tangkap sebagai bahasa universal yang ditunjukkan oleh semua elemen di alam. Dalam buku ini, sia anak berkomunikasi dengan hatinya, dengan angin, dengan pasir, denga matahari, menggunakan bahasa dunia. Yang paling menarik menurut gue adalah perkataan dalam buku ini, bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, alam akan berkonspirasi untuk membantu kita mewujudkannya. Alam akan memberikan pertanda, lewat apapun, dengan bahasa dunia. Hati lo juga bakal memberi tahu lo dengan bahasa dunia, bagaimana cara lo mewujudkan mimpi-mimpi lo. Seringkali alam nggak pengen kita menyerah, dan dia membiarkan kita mencicipi kesuksesan di awal-awal usaha kita mewujudkan mimpi supaya kita tau rasanya menang dan kemudian nggak menyerah. Seringkali kita menyebutnya sebagai beginner's luck. Setelah itu, menjelang akhir perjuangan, kita akan diuji untuk melihat kesungguhan dan pembelajaran yang sudah kita dapat. Kadang-kadang ada orang yang nggak mau mendengarkan kata hatinya dan menutup diri dari pertanda, karena dia tau kalo mimpinya sulit dan nggak akan mungkin terwujud. Saat itulah hatinya mulai berhenti bicara padanya, dan pertanda mulai diabaikan. Menurut gue, saat seperti itulah, orang mulai kehilangan lentera jiwanya. Sekali lagi, setelah selesai membaca The Alchemist, gue mencoba meresapi kalimat "semoga terus mengikuti lentera jiwa". Makin terasa dalem. Selain untuk mencapai apa yang kita mau, mengikuti lentera jiwa juga membuat kita lebih peka terhadap sekitar dengan mencoba mendengarkan pertanda dalam bahasa universal, sinyal-sinyal yang dikirim alam untuk membantu kita memahami kehidupan sekaligus membantu kita mecapai apa yang kita mau. Jangan pernah berhenti mendengarkan hatimu dan pertanda yang dikirimkan alam :)
Apa sih arti teman?
Oke, ini jam setengah 2 pagi, terus gue duduk di depan laptop dan membawa tema yang terdengar lumayan berat untuk dikaji. Santai, gue cuma mau membahas sedikit dan ringan kok.
Beberapa bulan yang lalu, gue bilang kalo gue adalah teman semua orang. Terus gue dimarahin (gak dimarahin sih, diceramahin). Katanya nggak boleh begitu. Teman itu ya bukan yang mendadak dateng kalo susah terus amnesia kayak cewek di sinetron ketabrak bajaj kalo lagi seneng. Temen itu yang ada kalo susah atau seneng. Mungkin versi kecenya orang yang dateng dan stay ketika semua orang pergi.
Gue termasuk orang yang sangat suka networking. Jangan bayangkan gue kayak laba-laba, nyemprot-nyemprot jaring sembarangan ke setiap orang yang lewat depan idung. Maksudnya di sini adalah gue senang membangun relasi, berkenalan, ngobrol asyik sama semua orang, tidak membatasi pergaulan dan tidak memilih teman...
Ngomong-ngomong soal memilih teman, seorang motivator kegemaran gue pernah bilang kalo mengajarkan anak untuk tidak memilih teman adalah hal yang bodoh. Menurut gue, yang sangat kontra dengan bapak tersebut, mengajarkan anak memilih teman adalah bodoh. Kalo menurut gue, lingkaran pertemanan mempengaruhi kelakuan lo. Iya sih. Tapi jangan apa-apa nyalahin temen lo. Kalo lo punya prinsip dan bisa memposisikan diri, lo bisa sampe pada tahap membawa lingkaran pertemanan lo ke jalan yang benar. True story.
Dalam beberapa hari terakhir gue merasakan beberapa kejanggalan yang memperbesar potensi gue untuk kehilangan teman.
.............
Oke sebenernya inti dari postingan ini ya cuma itu. Gue takut kehilangan pertemanan dengan satu orang. Rasanya gue pengen bilang sama orang itu, apapun yang terjadi, jadi apapun kami nanti, gue nggak mau kehilangan sosok teman dalam diri dia :)
Nggak jelas ya? Maap deh udah pagi.
Selamat pagi :)
Nggak jelas ya? Maap deh udah pagi.
Selamat pagi :)
"Kalo aja masalah cinta bisa dibikin lebih mudah. Kita naksir orang, tinggal bilang, terus jadi."
"Iya sih, semua bakalan lebih mudah. Tapi less magical."
Gue pernah baca percakapan di atas, entah di mana. Di tumbl kalo nggak salah, dan quote-nya juga nggak persis kayak gitu. Yah pokoknya begitulah. Kalimat tersebut di atas sempat membuat gue berpikir berkali-kali. Less magical merupakan diksi yang paling tepat untuk meggambarkan semuanya, menurut gue. Selain karena emang cinta begitu rumit dan butuh kekuatan bulan sailor moon beserta invisible hand kayak di teori ekonomi, cinta yang berhasil emang kayak dapet restu semesta dan segala isinya.
Sejujurnya gue merupakan salah satu orang yang berdoa supaya permasalahan asmara-asmaraan ini dibuat sangat mudah seperti sinetron India. Lo naksir orang, tinggal joget muterin tiang bareng (diiringi penari latar sakti yang udelnya kemana-mana tapi nggak pernah masuk angin) kelar lagu, voila! Tetiba lo udah jadian sama orang yang lo taksir. Bukan dalam artian gue pengen semua serba instan dan tanpa proses, tapi gue ingin semuanya berjalan normal dan sederhana. Dari seratus juta lelaki Indonesia yang pernah gue gebet, 99,99 persen selalu melewati proses panjang, aneh, dan berujung tragis.
Gw hanya ingin semuanya berjalan sederhana. Dan normal.
Harus gue akui dengan penyesalan yag mendalam, beberapa kejadian buruk membuat gue berubah secara personal. Ada perubahan positif seperti sudut pandang yang semakin luas, gue menjadi lebih sabar dan mengotrol emosi, gue jadi bisa baik ke semua orang, gue bisa berpikir positif lebih sering, gue lebih waspada, nggak gampang percaya orang, dan gue lebih ikhlas. Disamping itu, nggak bisa dipungkiri kalo ada hal-hal negatif yang jadi buntut di sana sini. Sebenernya secara langsung kepribadian gue nggak berubah, tapi hal-hal negatif ini mempengaruhi pegambilan keputusan gue, terutama yang menyangkut perasaan.
Ngomong-ngomong soal perassan, kemarin sore gue ngobrol santai sama Ismi sambil nunggu arak-arakan mulai. Topikya nggak jauh-jauh, cuma tentang bagaimana bersikap pada satu orang.
"Jadi gimana kamu teh sama dia?" Tanya Ismi. Awalnya gue cuma ketawa-ketawa garing. Sisanya muka gue berubah jadi sendu. Entah karena capek, kehujanan, atau emang gue punya bakat jadi tokoh utama sinetron yang kerjanya disiksa tokoh antagonis.
"Ya gitu weh. Jadi canggung. Awkward."
"Siapanya? Dianya? Apa kamunya?"
Seperti biasa jiwa kepo Ismi yang mugkin menular dari gue keluar secara membabi buta. Semua dikorek.
"Dua-duanya kayaknya. Tapi ya Mi, Sikap aku ke dia itu tergantung sikap dia ke aku."
"Oooh. Iya ngerti." Ismi manggut-manggut.
"Tapi aku udah nggak ragu Mi. Aku tau harus jawab apa kalo ditanya."
"Kalo ditaya orang-orang?"
"Iya. Tapi aku nggak akan jawab kecuali dia yang nanya serius."
Kembali ke beberapa hari sebelum kemarin, gue masih bingung dan tidak bisa menemukan apa yang terjadi, apa yag gue rasakan, dan kebingungan-kebingugan lain yang nggak jelas. Tapi kemarin, gue tau semuanya dengan sangat jelas. Apa yang gue rasakan sebenernya sudah ada di sana jauh sebelum kemarin, menunggu untuk disadari dan diyakini.
"Emang apa jawabannya?"
"Kepo ah. Gaboleh tau. Takutnya jawaba aku sama dia beda kan nggak enak."
Kami kemudian berjalan dan ngobrol ini itu. Seharusnya mungkin Ismi udah ngeh jawaban seperti apa yang gue maksud. Harusnya dia sudah tau.
Seperti yang sudah-sudah, gue nggak mau menghadirkan hawa canggung di udara. Gue nggak pengen semuanya berubah, dengan atau tanpa serangan dari negara api. Semua harus tetap sama, walaupun dengan segala permohonan maaf, gue harus mengakui perassan gue berubah seiring berjalannya waktu. Mungkin bukan dari setahun yag lalu ketika ada yang pertama kali bertanya tetang kami.
Di tengah perjalanan dan di tengah obrolan, kami mampir sholat dulu. Waktu Ismi sholat, nggak sengaja mata gue menangkap ada dia, jalan ke arah mushola juga. Refleks gue nyengir, dan sepertinya gue mendengar suara dalam hati gue berbisik.
"Ya, dengan senag hati gue mau berjalan bersama lo."
I was walking along the beach with my Lord.
Across the dark sky flashed scenes from my life.
For each scene, I noticed two sets
of footprints in the sand,
one belonging to me
and one to my Lord.
When the last scene of my life shot before me
I looked back at the footprints in the sand.
There was only one set of footprints.
I realized that this was at the lowest
and saddest times of my life.
This always bothered me
and I questioned the Lord
about my dilemma.
“Lord, you told me when I decided to follow You,
You would walk and talk with me all the way.
But I'm aware that during the most troublesome
times of my life there is only one set of footprints.
I just don't understand why, when I needed You most,
You leave me.”
He whispered, “My precious child,
I love you and will never leave you
never, ever, during your trials and testings.
When you saw only one set of footprints
it was then that I carried you.”
-Margaret Fishback Powers-
Across the dark sky flashed scenes from my life.
For each scene, I noticed two sets
of footprints in the sand,
one belonging to me
and one to my Lord.
When the last scene of my life shot before me
I looked back at the footprints in the sand.
There was only one set of footprints.
I realized that this was at the lowest
and saddest times of my life.
This always bothered me
and I questioned the Lord
about my dilemma.
“Lord, you told me when I decided to follow You,
You would walk and talk with me all the way.
But I'm aware that during the most troublesome
times of my life there is only one set of footprints.
I just don't understand why, when I needed You most,
You leave me.”
He whispered, “My precious child,
I love you and will never leave you
never, ever, during your trials and testings.
When you saw only one set of footprints
it was then that I carried you.”
-Margaret Fishback Powers-
Kehidupan selalu punya kejutan yang menarik bukan di setiap harinya?
Gue baru saja diberi kejutan yang sebenernya sudah gue duga dari jaman kuda gigit besi. Tentang bagaimana sebuah perjalanan panjang bisa menyatukan dua hati. Bagaimana doa dari hati yang terdalam terjawab secepat kilat. Gue dibuat percaya pada Tuhan, dan bagaimana kalimat "Orang sabar disayang Tuhan" begitu terasa benar. Sebuah kejadian yang membuat komentar "Lo terlalu baik, Wi" kerasa kayak sebuah kelebihan dan bukan kekurangan.
Awal tahun, dan sebuah kejutan sudah memberikan gue banyak cerita. Semoga sepanjang tahun hidup gue bisa semenarik ini terus. :)
Pagi2 buta, hari ini...
Tunggu. Emang pagi2 buta ya?
Oke, lupakan.
Pagi2 buta ini gw, yara, eris, dan faza (yang telat banget datengnya) berangkat ke jogja. Tujuan kami adalah jalan2 ke...jogja
You don't say
Selain ke jogja kita juga akan ke solo dan gunung kidul
Eniwei (asik deh bahasa anak gaul) kemaren disti ngirim link lomba nulis. Ada genre fiksi komedi di sana, dan gw tertarik. Mungkin gw bakal ngirim salah satu dari koleksi gw. Mudah2an sempet, deadline-nya 31 maret 2013.
Selain lomba nulis itu, gw juga lagi fokus ngurusin Azhar, Christo, Aras sama Fajar. Yep, Engineer Rhapsody! Gw merencanakan akan ada 4 seri, plus 1 seri tambahan yang masih tentatif. Semoga gak kehilangan minat (lagi) mengingat gw udah menggarap cerita ini dari 2009.
Dan 2013... Gw cuma berharap dia lebih menyenangkan dari 2012. Yeay!