Bagi dua
05.16
Kami duduk diam tanpa suara. Nggak banyak yang kami obrolkan siang itu. Saya duduk menghadap ke depan dan dia duduk tegak lurus dengan saya. Tangan kanan menopang dagunya. Sesekali ia memaksakan diri untuk tertawa. Mata saya menerawang, nggak tahu harus tanya apa. Yang saya coba pikirkan adalah bagaimana supaya tidak canggung. Sayang sekali saya nampaknya salah memilih topik pembicaraan. Lalu kami terlibat dalam obrolan yang agak serius, berujung homesick.
"Kalo lagi susah gini jadi kepikiran rumah"
"Ya." Ya saya mengerti. Dalam hati saya mengamini pernyataannya.
"Tapi kalo cerita sama ibu pasti beliau makin khawatir. Bantu nggak, malah nambahin pikiran."
Lagi-lagi saya setuju.
"Dibikin seneng aja." Saya berusaha netral. "Tapi selama ini semua baik-baik aja kan di sini?"
"Ya." Katanya. "Seneng. Tapi kangen rumah, tetep. Cuma bisa telpon tiap hari. Nggak bisa bantu ibu. Nggak bisa mijitin ibu."
"Tapi kita harus terbiasa kan?"
"Ya, karena pada akhirnya kita pasti berkeluarga dan punya kehidupan sendiri nanti."
"Walaupun tetap kita ini anak, mau setua apapun kita tetap anak yang butuh orang tua."
"Ya."
Hening.
"Jangan sedih ya. Maaf banget aku jadi bikin sedih."
"Nggak kok tenang aja." Ia tersenyum, sambil berdiri dan berjalan keluar. "Kan sedihnya udah kubagi dua sama kamu."
0 komentar