Lost In Depok City (Bagian 1) : Berkejaran Dengan Travel
06.56
Setelah hari rabu tanggal 14 April berkelana mencari kitab suci ke Transtudio, besoknya hari rabu tanggal 15 gue dan Faza berpetualang ke Depok City.
Semua berawal dari lowongan kerja yang dibuka oleh sebuah BUMN. Prosedur pendaftaran dan penyerahan berkas tidak difasilitasi lewat pos atau jasa pengantaran lainnya, jadi mau nggak mau kami berdua harus datang langsung ke tempat pedaftaran yang berlokasi di UI.
Dengan modal bertanya kesana kemari pada Ismi yang udah lebih dulu mengembalikan formulir dan pada Yara yang titisan preman Depok, gue dan Faza memantapkan diri untuk berangkat ke TKP hari rabu, sehari sebelum pendaftaran ditutup. Kami janjian untuk naik sebuah travel yang akan mengantarkan kami langsung ke Depok, sebut saja namanya Aya Travel. Supaya nggak kesiangan, kami janjian di Aya travel jam 7 pagi supaya bisa pesen tiket yang jam setengah delapan.
Khawatir Faculita Sang Putri Tidur Sepanjang Masa baru bangun jam delapan pagi tiga hari kemudian, gue dengan semangat empat lima udah nelponin doi sejak ayam ambisius milik tetangga gue mulai berkokok di sepertiga malam. Nggak deng lebay. Gue baru bangunin dia jam 6 pagi. Karena kagak diangkat-angkat, gue ampe ngerusuhin adiknya, Ajil, minta tolong bangunin kakaknya. Untungnya kata Ajil, kakaknya udah bagun dan lagi mandi. Lega deh gue.
Jam setengah tujuh gue berangkat menuju Aya. Sesampainya di sana baru jam 7 pagi. Gue masuk ke dalam ruang tunggu, langsung nyamperin Mas-Mas yang masih nguap-nguap, walaupun dandanan udah rapi jali dan kelihatan udah mandi wangi-wangi. Karena travel kelihatan sepi, gue pede aja bakalan dapet tiket pagi ini jam setengah delapan pagi.
Gue sama Faza emang nggak segitu ngototnya buat ikutan tes BUMN ini, makanya kami nggak pesen tiket dari jauh-jauh hari. Faza pengen kerja cantik, begitu katanya, walaupun gue nggak ngerti definisi kerja cantik itu apa. Gue sendiri lebih seneng kerja di NGO yang cukup dinamis. Tapi toh apa salahnya dicoba daftar si BUMN ini, ya kan sodara sodari? Namanya juga berikhtiar. Kalau rejeki alhamdulillah, kalau nggak ya sudahlah.
Lanjut, masuk ke dalam tempat pemesanan tiket, gue bertanya pada Mas-Masnya.
"Mas, paling cepet jam berapa ya travelnya?"
"Setengah delapan Mbak."
"Mau dong Mas, dua biji. Buat ntar setengah delapan."
"Kalo buat ntar habis Mbak."
"Aaaaappppaaaaa??? Hhhhaaabbbbbiiiissss????!!!"
Mata melotot, hidung kembang kempis, bibir maju mundur serong kanan kiri, dagu gemeteran, kamera zoom in zoom out.
"Setelah itu paling cepet jam berapa Mas?"
"Jam 10 Mbak."
"Aaaaappppaaaaa???"
Let's skip the sinetron scene.
Walaupun nggak segitu keukeuh harus daftar, gue tetep mau mengusahakan yang terbaik dan berangkat ke UI, Maka dalam kepanikan yang lumayan mengguncang dunia bagaikan eskrim monas meiji, gue menelepon Faza........ yang ternyata masih sarapan.
"Cul tiket abis."
"YAH TERUS GIMANA?"
Akhirnya gue menawarkan untuk naik travel lain yang sempat gue cari di google, sebut saja travel Baraya. Bermodal googling nomer telponnya, akhirnya gue menghubungi call center travel tersebut.
"Selamat pagi, bisa dibantu?" Kata Mbak-Mbak di ujung telepon.
"Kalo ke Lenteng Agung paling cepet jam berapa ya Mbak?"
"Jam delapan pagi Mbak."
"Untuk jam delapan pagi ini masih ada Mbak?"
"Masih, untuk berapa orang?"
"Dua."
"Atas nama siapa?"
Akhirnya. Dapet. Travel. Juga.
Joget ala meme third world success kid di pinggir jalan.
Karena nggak tahu gimana cara pergi ke pool travel Baraya Surapati dari pool Aya yang di deket Baltos (I was disappoited with myself. Sebagai ratu angkot harusnya gue tau gimana caranya pergi ke sana :""""""" ) Faza ngajak gue pergi ke rumahnya supaya bisa berangkat bareng dianter ayahnya. Walhasil terdamparlah gue bagai paus di pinggir pantai, nongkrong di kamar Faza untuk diantar ke travel yang akan berangkat jam delapan.
Sesampainya di travel baru jam delapan kurang lima belas. Habis beresin bayaran, kami berdiri manis dekat mobil, nunggu diangkut.
Dari sinilah semuanya berawal.
3 komentar
aku dulu ke jakarta naik bus primajasa, tapi dari cileunyi haha. turunnya di lebak bulus, habis itu pake transjakarta deh :3
BalasHapusini btw postinganmu banyak yang aku komenin deh wi ntar habis ini haha
hahahaha gapapa kali maaa ayo ma dikomen dikomen :') oiyaa? aku kemarin sama faza buta arah bgt ma terus kita nekat aja ke jkt ga tau apa2 hihihi. kamu wkt itu sama siapa ma?
Hapus*komenlagi setelah dikasih tau udah dibales* uhuk, aku sama temen anak unpad jatinangor waktu itu hoho. murah sih, cuma 30 ribu doang naik bisnya. tapi seat nya syuempit hoho. sama wii aku jg buta arah. bekel gugling sama ngeliat trayek transjakarta aja di setiap pool haha.
Hapus