T menjadi F

06.52

"MBTI mu apa, Mbak?" Tanya Riza, suatu hari.

"ENFP" Jawab gue. "Campaigner. Kalo kamu?"

"ENTP Mbak." Dia ngekek. "Debater."

Pada jamannya, gue juga adalah seorang debater. Di kalangan rekan-rekan gue pada waktu itu, gue terkenal menyebalkan, banyak protes, banyak selidik, banyak tanya. Prinsipnya, semuanya salah dan mencurigakan sampai terbukti tidak.

"Kamu mah, kalo lagi duduk sendiri di sofa, sofanya aja kamu ajak debat sampe bertengkar." Kata Yara.

"Parah sih itu Mbak." Kembali, Riza ketawa.

"Tapi sekarang aku sudah berubah Za. Aku sudah beralih dari ENTP jadi ENFP."

"Lebih banyak pake feeling ya Mbak?"

"Iya e."

"Tanda-tanda tua itu."

Semua aja lu kate tanda tua, Za, Za, hidup lo. Tapi dipikir-pikir bener juga.

Dulu, waktu gue masih sekolah, kerjaan gue nyari ribut sama orang. Nggak seneng, ngamuk. Beda pendapat, berantem. hal-hal sepele yang sebetulnya bisa aja diselesaikan secara baik-baik atau malah bisa diabaikan saja, malah jadi salah satu hal yang bisa memicu pertengkaran hebat. Nggak keitung deh berapa banyak orang sebel sama gue karena itu.

"Waktu kerja aku juga gitu, Za. Suka bikin kesel orang."

Gue tidak menuntut kesempurnaan dalam pekerjaan. Hanya kejelasan. Tapi kadang, hal tersebut juga memicu debat. Lalu berantem lagi. Kadang sampe tengkar sama atasan. Nggak baik, begitu komen gue sekarang.

"Pas dulu sebelum di sini, bosku itu tipe yang kalo nggak cocok sama orang, orangnya dibikin nggak betah sampe ngajuin resign sendiri, Za."

"Terus kamu dulu gitu, Mbak?"

"Pas ada aku, bosnya yang nggak betah ada di kantor, Za."

"BUSET."

Ya, itu dulu. Sekarang? Bisa dibilang, gue lebih bisa memposisikan diri.

"Ya itu, sih, Mbak. T mu udah berubah jadi F."

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images